Turut berduka cita atas matinya internet

Saya gak ngerti apa yang ada di pikiran pemerintah terutama depkominfo atas keputusan untuk memblock situs youtube.com, rapidshare.com, multiply.com, dll (surat keputusan akan saya copy dan paste secepatnya). Per hari ini saya gak bisa download software atau movie kesayangan saya di youtube.com maupun di rapidshare.com. Saya gak bisa liat lagi cuplikan film “Forbidden Kingdom” di youtube.com atau bahkan cuplikan “Ayat-ayat Cinta” atau film yang bagus lainnya.

Hanya gara-gara 1 film fitna semuanya kena getah. Bahkan saya jadi gak bisa download di rapidshare gara-gara pemerintah yang sampai sekarang saya gak ngerti arah pikirannya apa.

Panik dan bodoh cuma itu yang saya bisa katakan kepada Depkominfo (maaf jika kata-kata saya terlalu kasar) karena masa untuk membunuh nyamuk harus menggunakan nuklir. Sekalian saja putusin internet biar mati perekonomian Indonesia. Di detik.com saya baca baru-baru ini para ibu-ibu menjerit karena usaha mereka terancam bangkrut karena sosial networking seperti multiply jadi kena sasaran, padahal rasa-rasanya film fitna tidak ada di situ.

Kalau memang yang diblock adalah situs-situs porno jelas saya mendukung sekali seperti yang tertuang dalam UU ITE. Tetapi kalau diblock harus satu situs semisal youtube.com rasa-rasanya terlalu aneh dan tidak semua content youtube.com itu tidak baik.

Kenapa tidak diblock hanya filmnya saja, kalau memang pemerintah ingin serius memblock film fitna? Atau menggunakan cara-cara counter dengan mengkampanyekan dan mengadakan diskusi-diskusi panel mengenai Islam? Toh kita tahu Wilder tetap bersalah karena mempromosikan kebencian dan menganggu kerukunan antar umat beragama. Tidak saja dari kaum muslim dari semua golongan agama pun (Kristen, Budha, dll) mengecam tindakan Wilder.

Nah kalo mau dirunut ke belakang tentang keadilan juga bagi kaum minoritas yang dilecehkan. Kenapa Film “Da Vinci Code” tidak diblock juga sekalian? Atau buku-buku yang mencela agama tertentu (terutama yang ditujukan kepada kaum minoritas) yang sekarang beredar bebas di toko-toko buku tidak sekalian diblock atau dilarang beredar? Apalagi karya-karya tersebut juga berpotensi menganggu keharmonisan beragama di Indonesia sama halnya dengan karya Wilder.

Percaya atau tidak tindakan blocking ini bukan merupakan solusi terbaik dan bukan merupakan solusi Win-Win bagi para pengguna yang gak tau apa-apa maupun yang menjadi obyek Wilder. Solusi ini juga tidak efektif karena jika ada film ‘fitna’ di upload di suatu situs berbagi niscaya situs berbagi tersebut pasti akan diblock dan muncul protes dari bagi yang menggunakannya padahal mereka belum tentu menonton film bodoh tersebut.

Jadi lama-lama sekalian saja matikan internet hanya gara-gara 1 film.

Turut berduka cita atas matinya dunia internet….

Leave a Reply