New Year in the world, New War in Gaza

Gaza WarTepat pada tanggal 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel meraung-raung di udara Gaza menjatuhkan bom di jalur Gaza sebagai tanda dimulainya perang antara Israel dengan Hamas yang merupakan salah satu fraksi paling militant di Palestina. Korban jiwa pun tak terelakan, menurut harian Kompas hari ini paling tidak sedikitnya 588 korban tewas dan 100 anak-anak tewas akibat serangan ini, tidak diketahui secara pasti berapa korban jiwa dari pejuang Hamas, berapa korban jiwa dari penduduk sipil karena belum ada yang bisa memberikan perincian tersebut ke media. Sedangkan dari pihak Israel 5 tentara dan 4 warga sipilnya tewas akibat serangan roket dari Hamas.

Serangan Israel ke Gaza sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya ketika Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni (yang juga calon Perdana Menteri Israel mendatang) mengatakan bahwa Israel akan mencongkel Hamas dengan berbagai cara baik itu diplomasi maupun perang. Dan Livni sempat berkunjung ke berbagai negara salah satunya adalah Mesir, bisa jadi salah satu tujuan kunjungan tersebut adalah melobi niatannya tersebut.

Alasan yang sering dikemukakan Israel adalah berang dan kesal lantaran wilayahnya di selatan menjadi bulan-bulanan roket Hamas yang diluncurkan dari wilayah Jalur Gaza. Lantaran frustasi dan lelah akhirnya Israel memutuskan masuk kembali ke Gaza (sejak tahun 2005 Israel secara unilateral keluar dari Jalur Gaza, tempat paling ‘panas’ di dunia). Balasan Israel terhadap Hamas pun sangat berlebihan sedangkan Hamas menyerang roket tanpa bertanggung jawab. Pembalasan Israel pun menuai kecaman demi kecaman dari seluruh dunia. Sedangkan Hamas dituntut untuk menghapus sikap radikalismenya terhadap Israel.

Tidak perlu menunggu serangan darat yang dilancarkan oleh Israel pada tanggal 3 Januari 2009 yang lalu, dunia internasional sudah kebakaran jenggot mengenai serangan Israel sejak hari pertama penyerbuannya. DK PBB pun gagal menelorkan satu resolusipun untuk Israel karena sekutunya Amerika Serikat menggunakan hak vetonya. Sedangkan orang-orang di seluruh negara Asia terutama dari negara-negara yang mayoritas beragama Muslim termasuk Indonesia, beramai-ramai turun ke jalan untuk memprotes ulah Israel. Di Indonesia sendiri yang jadi ‘sasaran tembak alternatif’ oleh para demonstran adalah Kedubes Amerika Serikat” hal ini disebabkan karena memang kedubes Israel tidak ada di Indonesia (karena memang Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel) serta dukungan nyata Amerika Serikat terhadap Israel. Janganlah heran jika Bendera Israel pun laku terbakar di mana-mana.

Sedangkan pihak Pemerintah Indonesia sendiri pun memutuskan untuk mengirimkan bantuan berupa obat-obatan & makanan serta beberapa tenaga medis ke Gaza (meskipun sampai sekarang masih terhambat di Mesir menunggu ijin untuk masuk ke sana), sedangkan pihak deplu sendiri menggalangkan dukungan dari Gerakan Non Blok yang berjumlah 117 negara untuk menggelar Sidang Umum darurat PBB.

Perang antara Israel & Hamas ini memang sulit dipantau oleh media Internasional karena kabar mengenai korban jiwa serta kerusakan-kerusakan yang terjadi didapat hanya didapat dari sumber Israel & Hamas. Sedangkan sumber independent sangatlah sulit didapat karena Israel melarang pers memasuki jalur Gaza sedangkan Hamas melarang pers meliput pertempuran dari jarak dekat.

Jika ditelaah lebih jauh lagi, sebenarnya perang antara Israel dengan Hamas adalah lebih dari sekedar isu mengenai Palestina tetapi melebar kepada perang antara Amerika Serikat dengan Iran untuk masa depan Timur Tengah. Dan memang sudah bukan rahasia lagi jika Israel merupakan sekutu Amerika Serikat sedangkan Hamas mendapatkan dukungan dari Iran. Begitulah kata beberapa analisis Timur Tengah. Kejadian seperti ini mirip seperti Perang Vietnam, Perang Afganistan serta perang-perang di tempat lain pada masa Perang Dingin antara AS dengan Uni Soviet. Ketika itu yang dihadapi bukanlah perang langsung antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet tetapi yang terjadi adalah perang dukung mendukung pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Yang dikatakan para analis mungkin benar juga, karena ketika saya melihat pertempuran fisik yang terjadi antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza begitu hebatnya, justru di tempat-tempat lain perang psikologis tidak kalah hebatnya dan perang itu terasa sampai ke Indonesia. Teriakan “Jihad” pun muncul di mana-mana, tekanan bukan hanya ditujukan kepada Israel tetapi juga kepada pemerintah Indonesia untuk mengirimkan pasukannya ke Jalur Gaza.

Sedangkan di dunia perang urat syaraf juga sangat terasa, seperti usaha untuk menelurkan resolusi DK PBB untuk Israel yang dipelopori oleh negara-negara Timur Tengah maupun seruan gencatan senjata yang dipelopori oleh Perancis dan didukung oleh negara-negara barat serta beberapa negara Timur Tengah.

Perang Hamas dengan Israel memang rasanya lebih dari sekedar perang biasa, tetapi sudah sampai pada tahap perang ideologis antara Amerika Serikat dengan Iran yang secara radikal bertekad menghapuskan Israel dari peta dunia. Sepertinya perang ideologis ini pun sudah sampai ke Indonesia mengingat beberapa fraksi di Indonesia sangat mendukung politik yang diusung oleh Presiden Iran Ahmaddinejad.

Hanya saja mengutip pernyataan dari Presiden SBY, perlu diketahui bahwa perang antara Israel dengan Hamas bukanlah perang agama dan kita berharap jangan sampai terjebak ke arah sana.

Menurut para analis, Israel memiliki harapan bahwa hasil akhir dari pertempuran ini adalah bukan hanya sekedar menghentikan serangan roket Hamas ke Israel, tetapi sebenarnya lebih dari itu. Fraksi-fraksi garis keras di Palestina seperti Hamas diharapkan bisa segera berdamai dengan Israel dan mengakui eksistensi negara Israel di Timur Tengah. Namun sepertinya kunci untuk mencapai konsesi di atas adalah seberapa jauh suksesnya diplomasi yang dilakukan oleh Israel melalui Negara-negara Barat terhadap Iran yang mendukung Hamas dan Hizbullah.

Menurutnya ada beberapa fraksi di Iran yang sebenarnya sejak lama menginginkan semacam ‘deal’ dan pengakuan dari Amerika Serikat. Hal ini seharusnya bisa ditangkap oleh Barat dan membuka ruang untuk berdiplomasi. Tercapainya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat mungkin saja bisa terjadi jika dilakukan oleh Barack Obama Presiden terpilih Amerika Serikat, namun amatlah mustahil jika George W Bush yang akan melakukannya karena selain sudah tidak disukai juga kepemimpinnannya sudah akan berakhir Januari ini kemudian dihadiahi sepatu pula oleh Muntadar Al-Zaidi menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya.

Sehingga harapannya Iran bisa diajak untuk duduk bersama-sama (selain melibatkan kuartet (AS-Uni Eropa-PBB-Rusia) yang menurut hemat saya tidak efektif) dan berperan serta untuk perdamaian di Timur Tengah mengingat peran Iran yang sangat besar bagi kawasan.

Perdamaian Timur Tengah sebenarnya adalah harapan dari semua masyarakat dunia. Dan terus berharap agar ada perdamaian yang terjadi di wilayah yang paling panas di dunia itu, hingga di tahun yang baru ini.

Ironisnya di saat menjelang pergantian tahun, masyarakat dunia diberi kado tahun baru yaitu konflik Gaza. Lucunya ketika orang-orang di seluruh dunia merayakan tahun baru 2009 dengan pesta kembang api yang meriah, di Jalur Gaza pesta kembang apinya justru lebih meriah lagi.

Masyarakat dunia sekarang ini menjadi sangat sulit sekali melihat masa depan di tahun baru ini mengingat selain krisis global yang terus mengintai di semua negara ditambah lagi perang di kawasan paling panas di dunia yaitu Jalur Gaza.

Sedangkan perjuangan untuk diplomasi sepertinya juga seakan-akan menjadi benar-benar sulit mengingat kedua belah pihak yang bertikai sangat bersikeras dengan pendapatnya masing-masing. Sepertinya akan lebih efektif jika Hamas dan Israel mengajak juga Iran & Amerika Serikat untuk berunding bukan hanya untuk mencapai gencatan senjata tetapi lebih dari itu adalah untuk mencapai perdamaian dunia demi masa depan dunia yang lebih baik.

Semoga Tahun Baru 2009 ada perdamaian di Timur Tengah…

Happy New Year 2009, God Bless you all

4 Replies to “New Year in the world, New War in Gaza”

  1. trnyata israel nyerang HAMAS sbg serangan balasan toh?? bru tau, gw kira israel asal nyerang -.-”” AS jg gk nolong gr2 itu dianggep self-defense yg dilakukan oleh irael

Leave a Reply